Kamis, Februari 23, 2012

Mengetuk Pintu Paksa


saat aku lelah menulis dan membaca

di atas buku-buku kuletakkan kepala

dan saat pipiku menyentuh sampulnya

hatiku tersengat

kewajibanku masih berjebah,

bagaimana mungkin aku bisa beristirahat?

-Imam An Nawawi-

”Aku merasa bagai hewan sembelihan”, tulis seorang pemuda yang kelak menyejarah, ”Yang digiring ke padang penjagalan.” Itulah yang dirasakannya ketika Sultan Nuruddin Mahmud Zanki memerintahkannya menyertai sang paman mempertahankan Mesir dari serbuan Amalric, Raja Yerusalem di tahun 1164. ”Seakan jantungku ditoreh belati”, ia melanjutkan penuturannya sebagaimana direkam oleh sejarawan Ibnu Syaddad dalam karyanya Al Mahasin Al Yusufiyyah. ”Dan ketika itu aku menjawab: Demi Allah, bahkan seandainya aku diberi seluruh kerajaan Mesir, aku takkan berangkat!”

Pemuda ini begitu membenci pertempuran, ngeri membayangkan darah, bergidik melihat luka, dan tak tega mendengar jerit kesakitan. Ia tenggelam dalam keasyikan akan hobi-hobinya. Ia suka bermain bola. Ia gemar bertamasya dengan kuda anggunnya. Ia fasih bersyair. Ia ganteng dan flamboyan. Ia melankolik. Ia sensitif. Ia gampang menitikkan air mata oleh hal-hal sepele. Ia sakit-sakitan. Semua kondisi dan perjalanan masa mudanya membuat banyak sejarawan enggan menuliskan pertiga awal hidup pemuda ini. Menurut para sejarawan itu, kisah masa mudanya akan membuat keseluruhan sejarah hidupnya ternoda.

Pendapat para sejarawan ini dibantah Dr. Majid ’Irsan Al Kilani dalam disertasinya, Hakadza Zhahara Jiilu Shalahiddin. Menurutnya, mengisahkan masa mudanya akan menampakkan betapa Islam memang bisa mengubah sesosok pribadi lembek menjadi pribadi pejuang. Bahwa celupan Ilahiyah memang mampu menyusun ulang komposisi jiwa seseorang. Seorang pengecut bisa menjadi pemberani. Seorang pecundang di masa lalu, tak kehilangan peluang menjadi pahlawan di masa depan.

Inilah jalan cinta para pejuang. Sungguh hidayah Allah itu diberikanNya pada siapapun yang dikehendakiNya. Maka di jalan cinta para pejuang, kita tak boleh memandang tinggi diri dan merendahkan orang lain, apalagi menyangkut masa lalu.

Kembali pada pemuda yang menarik hati ini. Sejak tahun 1164 itu memang hidupnya berubah. Dulu ia membayangkan semua hal dalam pertempuran sebagai kengerian belaka. Tetapi begitu Sultan Nuruddin dan sang paman, Asaduddin Syirkuh, memaksanya terjun ke kancah jihad, ia terperangah. Meski kengerian itu tetap, ia menemukan banyak keindahan. Persaudaraan. Pengorbanan. Rasa dekat dengan maut. Kekhusyu’an. Kenikmatan ibadah. Keberanian. Kepahlawanan. Dulu ia membayangkan. Kini ia ’dipaksa’ merasakan. Akhirnya, ia menemukan gairah yang begitu menggelora untuk membebaskan kiblat pertama ummat Islam, Al Quds, dari penjajahan Salib. Hidupnya tak pernah sama lagi.

Setiap debu yang menempel di jubahnya dalam jihad dari tahun 1164 hingga wafatnya, 1193, ditapisnya dan dihimpun. Ia berwasiat agar debu-debu itu dijadikan bulatan-bulatan tanah pengganjal jasadnya di liang kubur. Ia berharap debu-debu itu menjadi saksi baginya nanti di hadapan Allah. Semoga Allah memuliakannya. Pemuda itu bernama Yusuf. Tapi kelak kita memanggilnya Shalahuddin Al Ayyubi.

♥♥♥

Paksaan. Adakah ia menjadi salah satu tabiat dari jalan cinta para pejuang? Tentu saja bukan. Kecuali dalam tanda kutip. Di dalam tanda kutip itulah paksaan menjadi sebuah kepahlawanan. Ia serupa sebuah pertempuran melawan ego dan nafsu diri. Awal-awal, bisa jadi seseorang dipaksa lingkungan. Lalu ia memaksa diri. Awal-awal jiwanya payah, jasadnya lelah. Lalu terbiasa. Lalu terasa nikmat. Lalu ia mengaca, menghayati kembali makna keikhlasan. Begitulah jalan cinta para pejuang, kepayahan dan keindahannya tak berujung.

Tetapi bukankah memang dalam kehidupan ini banyak yang harus kita jalani melalui lorong keharusan? Ada ibadah wajib. Ada keharusan dalam tiap peran kita sebagai pribadi, sebagai suami, sebagai ayah, sebagai warga. Semua kewajiban itu kita jalani agar kita selamat sampai ke surga Allah. Dan di jalan cinta para pejuang, perlu dipasang pintu tambahan agar kita lebih cepat sampai ke tujuan itu. Itulah pintu pemaksaan.

Pintu pemaksa Shalahuddin mewujud di bumi sebagai Sultan Nuruddin dan Asaduddin Syirkuh. Apa jadinya jika pintu pemaksa itu turun langsung dari langit? Muhammad, insan terpilih itu merasakan kengeriannya. Bukan karena keengganan. Tapi siapa yang mampu menepis rasa lemah dan tak mampu ketika ditimbuni tugas untuk mengubah wajah bumi yang coreng-moreng? Di Gua Hira, ia Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dipaksa membaca. “Aku tak bisa membaca”, katanya memohon belas.

Tetapi Jibril terus memaksanya, mendesaknya. ”Bacalah!” Jibril mendekapnya hingga ia nyaris kehilangan nafas. Saat dadanya telah sesak, nafasnya teperkosa, dan rasa takut membuat jantungnya seakan naik ke tenggorokan, Jibril lalu melepasnya.

”Bacalah!”

Terengah, dengan merinding, keringat menderas, dan wajah pias pasi ia menjawab lagi, ”Aku tidak bisa membaca.”

Lalu Jibril membimbingnya.”Bacalah dengan asma Rabbmu yang telah mencipta. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmu Yang Paling Pemurah. Yang mengajar dengan pena. Ia ajarkan pada manusia apa-apa yang belum diketahuinya.”

Muhammad Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam mencoba mengeja. Dengan getar mengharu biru, dengan perasaan tercekam, dengan keringat yang terasa bagai lelehan salju di kulitnya yang memucat. Ia menirukan bacaan itu. Jibril telah memaksanya. Dan bermula dari paksaan itulah dia memenuhi takdir kesejarahannya untuk mengubah dunia. Pulang dari Gua Hira’ raganya bagai melayang tapi terantuk-antuk saat berjalan. Terasa ringan, seolah melarikan diri dari kejaran. Tapi sekaligus serasa tak ke mana-mana; bumi dan isinya telah dipikulkan ke pundaknya. Maka ia hanya menjejak-jejak, tersaruk-saruk meniti beban yang ditanggung punggung.

Pucatnya belum hilang. Keringatnya bertambah banjir. ”Zammilunii! Selimuti aku! Selimuti aku!” Khadijah tanpa banyak tanya mengembangkan kemul, mendekapkannya ke tubuh mengigil itu. Ditatapnya lelaki baik hati yang telah 15 tahun mengisi hidupnya itu. Dengan tatapan percaya. Dengan bening yang menghadirkan tenang. Dengan senyum yang menguatkan.

Beberapa hari setelahnya, demikian Imam Al Bukhari meriwayatkan, Sang Nabi sedang berjalan. Tiba-tiba sosok yang menemuinya di Gua Hira’ itu tampak, sedang duduk di atas sebuah singgasana yang menyemanyam di antara langit dan bumi.”Aku mendekatinya”, kata Sang Nabi, ”Lalu tiba-tiba aku terjerembab menyerusuk ke tanah. Aku ketakutan lagi. Aku mencoba bangkit dan berlari. Hingga terdengar seruan berulang-ulang, ”Ya Muhammad, aku Jibril.. Dan engkau Rasulullah!”

Sang Nabi kembali pulang dengan gigil yang makin mengkhawatirkan Khadijah. Diselimutinya penuh kasih. Disapunya dahi yang digenangi keringat dengan jemari lembut, dikecupnya dengan senyum yang tulus dan memejam mata. Dihiburnya penuh cinta. ”Sungguh engkau adalah seorang yang selalu menyambung silaturrahim, tempat bergantung anak-anak yatim, dan penyantun orang-orang miskin. Demi Allah, Dia takkan pernah menyia-nyiakan engkau.”

Saat itulah, paksaan kembali hadir. Ia yang menjingkrung hangat di dalam selimut disentak wahyu. Ia menggigil lagi, bersimbah dingin yang merembes dari pori-pori. Wahyu itu, Surat Al Mudatstsir, menyengatnya dengan kalimat-kalimat perintah. Bergemerincing memekakkan. Pendek-pendek. Tegas. Jelas. ”Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berikan peringatan! Dan Rabbmu agungkanlah! Dan pakaianmu sucikanlah! Dan dosa-dosa tinggalkanlah! Dan janganlah kau memberi dengan maksud mendapat yang lebih banyak!”

Maka senarai pemaksaan itu semakin panjang dengan penegasan di rangkaian ayat yang juga membangunkannya dari kehangatan selimut lembut, Surat Al Muzammil. ”Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”, begitu firmanNya di ayat kelima. Maka dimulailah sebuah proses panjang yang melelahkan pada diri Sang Nabi untuk mengubah dunia. Kata ’paksa’ tentu bermakna bahwa beliau, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam menjalani segala itu bukan dengan leha beruncang kaki, tapi dengan berlelah-lelah. Payah. Bangun untuk shalat di malam hari. Berjalan kian kemari di siang hari, menyeru kerabatnya, menyeru kaumnya.

Dalam lelah itu, bertambah-tambah beban yang harus ditanggungnya. Bertimpuk-timpuk umpatan, ejekan, dan disebut gila. Iming-iming, intimidasi, dan fitnah. Guyuran isi lambung unta saat sujudnya. Duri-duri yang ditebar sepanjang pias. Pernah juga ia berdarah-darah dikejar orang, dilempar batu, disrimpung kayu, direcok senjata. Tapi ada lagi yang lebih menyesakkannya. Saat ia menyaksikan sahabat-sahabat yang dalam imannya harus disiksa, dipanggang dengan salib di pasir menyala, dan dibunuh.

Dari Shalahuddin, dari Sang Nabi, kita belajar tentang salah satu jalan untuk meretas keberhasilan. Jalan pemaksaan diri dalam maknanya yang positif. Sunnah kehidupan menegaskan adanya pintu keharusan dan pemaksaan. Bagi mereka yang secara sadar memilihnya, ada lompatan yang mengantar mereka pada mutu diri yang lebih tinggi. Berbuka terasa nikmat karena kita berpuasa. Yang manis terasa lebih menggigit karena kepahitan telah kita telan. ”Mawar merekah indah”, kata Jalaluddin Ar Rumi, ”Karena awan-awan merelakan diri jatuh ke bumi.”

Maka begitulah, jalan cinta para pejuang memiliki tabiat berlelah-lelah. Ada yang membuat kita harus memaksa diri. Goda kantuk di saat kewajiban bertumpuk. Ranjang yang hangat, isteri yang cantik, selimut yang lembut, dan dingin yang bersiraja di luar sana. Bagaimanapun, ini adalah pilihan bagi mereka yang memiliki keberanian. Ada istilah eustress. Eustress, kata Stephen R. Covey dalam The 8th Habit, adalah sesuatu yang mendesak kita, yang berasal dari keinginan untuk hidup bermakna.

Banyak orang menyamakan disiplin dan memaksa diri dengan tiadanya kebebasan. Kata mereka, ”Keharusan membunuh spontanitas. Tak ada kebebasan dalam keharusan. Saya ingin melakukan apa yang saya inginkan. Itulah kebebasan, bukan tugas.” Pada kenyatannya sebaliknyalah yang benar. Hanya orang-orang yang berdisiplinlah yang benar-benar bebas. Orang-orang yang tidak disiplin adalah budak dari suasana hatinya, budak kesenangan, dan nafsu-nafsunya.

Allah mengaruniai kita dua daya; untuk berbuat durhaka dan berbuat taqwa. Untuk menjadi jahat, dan untuk menjadi baik. Seringkali, daya yang kita butuhkan untuk meniti kebaikan sama besarnya dengan daya yang kita hajatkan untuk mengelak dari keburukan. Bahkan mungkin lebih berat, jika kita pertimbangkan goda dari luar diri kita. Ada isteri, anak, dan harta yang tidak berkah hingga menjadi fitnah, -Na’udzu billaahi min dzalik-. Ada syaithan dari jin dan manusia. Mereka berseliput di seputar kita, tak rela kita menjadi baik, tak ingin kita mukti dan mulia. Maka melawan mereka –dengan bijak hati dan keikhlasan tertinggi- adalah pintu pemaksa lain yang harus kita ketuk.

Di jalan cinta para pejuang, kita ucapkan ”Laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah.. Tiada daya untuk taat, dan tiada kekuatan untuk menjauhi maksiat kecuali dengan pertolongan Allah.” Dan sesudah mengucapkannya, kita harus memaksa diri melangkahkan kaki di jalan cinta para pejuang. Walau terantuk, walau tersaruk, walau terhuyung. Walau kadang limbung digalut bingung..

kekhawatiran tak menjadikan bahayanya membesar

hanya dirimu yang mengerdil

tenanglah, semata karena Allah bersamamu

maka tugasmu hanya berikhtiyar

dan di sana pahala surga menantimu



Sumber : http://salim-a-fillah.blog.friendster.com/2008/09/mengetuk-pintu-paksa/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar