Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan

Kamis, Februari 23, 2012

Mencintai Penanda Dosa (By : Salim A. Fillah)


Dalam tugas sebagai Relawan Masjid di seputar Merapi hari-hari ini, saya juga bersua dengan mereka-mereka itu. Ada suami-isteri niagawan kecil yang oleh tetangganya sering disebut si mabrur sebelum haji. Selidik saya menjawabkan, mereka yang menabung bertahun-tahun demi menjenguk rumah Allah itu, menarik uang simpanannya demi mencukupi kebutuhan pengungsi yang kelaparan dan kedinginan di pelupuk mata.

“Kalau sudah rizqi kami”, ujar si suami dengan mata berkaca nan manusiawi, “Kami yakin insyaallah akan kesampaian juga jadi tamu Allah. Satu saat nanti. Satu saat nanti.” Saya memeluknya dengan hati gerimis. Surga terasa masih jauh di hadapan mereka yang mabrur sebelum berhaji.

Ada lagi pengantin surga. Keluarga yang hendak menikahkan dan menyelenggarakan walimah putra-putrinya itu bersepakat mengalihkan beras dan segala anggaran ke barak pengungsi. Nikah pemuda-pemudi itu tetap berlangsung. Khidmat sekali. Dan perayaannya penuh doa yang mungkin saja mengguncang ‘Arsyi. Sebab semua pengungsi yang makan hidangan di barak nan mereka dirikan berlinangan penuh haru memohonkan keberkahan.

Catatan indah ini tentu masih panjang. Ada rumah bersahaja berkamar tiga yang menampung seratusan pelarian musibah. Untuk pemiliknya saya mendoa, semoga istana surganya megah gempita. Ada juru masak penginapan berbintang yang cutikan diri, membaktikan keahlian di dapur umum. Ada penjual nasi gudheg yang sedekahkan 2 pekan dagangannya bagi ransum para terdampak bencana. Semoga tiap butir nasi, serpih sayur, dan serat lelaukan bertasbih untuk mereka.

Ada juga tukang pijit dan tukang cukur yang keliling cuma-cuma menyegarkan raga-raga letih, barak demi barak. Ad dokter-dokter yang rela tinggalkan kenyamanan ruang berpendingin untuk berdebu-debu dan berjijik-jijik. Ada lagi para mahasiswa dan muda-mudi yang kembali mengkanakkan diri, membersamai dan menceriakan bocah-bocah pengungsi. Semua kebermanfaatan surgawi itu, sungguh membuat iri.

***

“Ah, surga masih jauh.”

Setelah bertaburnya kisah kebajikan, izinkan kali ini saya justru mengajak untuk menggumamkan keluh syahdu itu dengan belajar dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia?

Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.

Kini izinkan saya bercerita tentang seorang wanita yang selalu mengatakan bahwa dirinya jiwa pendosa. Kita mafhum, bahwa tiap pendosa yang bertaubat, berhijrah, dan berupaya memperbaiki diri umumnya tersuasanakan untuk membenci apa-apa yang terkait dengan masa lalunya. Hatinya tertuntun untuk tak suka pada tiap hal yang berhubungan dengan dosanya. Tapi bagaimana jika ujian berikut setelah taubat adalah untuk mencintai penanda dosanya?

Dan wanita dengan jubah panjang dan jilbab lebar warna ungu itu memang berjuang untuk mencintai penanda dosanya.

“Saya hanya ingin berbagi dan mohon doa agar dikuatkan”, ujarnya saat kami bertemu di suatu kota selepas sebuah acara yang menghadirkan saya sebagai penyampai madah. Didampingi ibunda dan adik lelakinya, dia mengisahkan lika-liku hidup yang mengharu-birukan hati. Meski sesekali menyeka wajah dan mata dengan sapu tangan, saya insyaf, dia jauh lebih tangguh dari saya.

“Ah, surga masih jauh.”

Kisahnya dimulai dengan cerita indah di semester akhir kuliah. Dia muslimah nan taat, aktivis dakwah yang tangguh, akhwat yang jadi teladan di kampus, dan penuh dengan prestasi yang menyemangati rekan-rekan. Kesyukurannya makin lengkap tatkala prosesnya untuk menikah lancar dan mudah. Dia tinggal menghitung hari. Detik demi detik serasa menyusupkan bahagia di nafasnya.

Ikhwan itu, sang calon suami, seorang lelaki yang mungkin jadi dambaan semua sebayanya. Dia berasal dari keluarga tokoh terpandang dan kaya raya, tapi jelas tak manja. Dikenal juga sebagai ‘pembesar’ di kalangan para aktivis, usaha yang dirintisnya sendiri sejak kuliah telah mengentas banyak kawan dan sungguh membanggakan. Awal-awal, si muslimah nan berasal dari keluarga biasa, seadanya, dan bersahaja itu tak percaya diri. Tapi niat baik dari masing-masing pihak mengatasi semuanya.

Tinggal sepekan lagi. Hari akad dan walimah itu tinggal tujuh hari menjelang, ketika sang ikhwan dengan mobil barunya datang ke rumah yang dikontraknya bersama akhwat-akhwat lain. Sang muslimah agak terkejut ketika si calon suami tampak sendiri. Ya, hari itu mereka berencana meninjau rumah calon tempat tinggal yang akan mereka surgakan bersama. Angkahnya, ibunda si lelaki dan adik perempuannya akan beserta agar batas syari’at tetap terjaga.

“’Afwan Ukhti, ibu dan adik tidak jadi ikut karena mendadak uwak masuk ICU tersebab serangan jantung”, ujar ikhwan berpenampilan eksekutif muda itu dengan wajah sesal dan merasa bersalah. “’Afwan juga, adakah beberapa akhwat teman Anti yang bisa mendampingi agar rencana hari ini tetap berjalan?”

“Sayangnya tidak ada. ‘Afwan, semua sedang ada acara dan keperluan lain. Bisakah ditunda?”

“Masalahnya besok saya harus berangkat keluar kota untuk beberapa hari. Sepertinya tak ada waktu lagi. Bagaimana?”

Akhirnya dengan memaksa dan membujuk, salah seorang kawan kontrakan sang Ukhti berkenan menemani mereka. Tetapi bi-idzniLlah, di tengah jalan sang teman ditelepon rekan lain untuk suatu keperluan yang katanya gawat dan darurat. “Saya menyesal membiarkannya turun di tengah perjalanan”, kata muslimah itu pada saya dengan sedikit isak. “Meskipun kami jaga sebaik-baiknya dengan duduk beda baris, dia di depan dan saya di belakang, saya insyaf, itu awal semua petakanya. Kami terlalu memudah-mudahkan. AstaghfiruLlah.”

Ringkas cerita, mereka akhirnya harus berdua saja meninjau rumah baru tempat kelak surga cinta itu akan dibangun. Rumah itu tak besar. Tapi asri dan nyaman. Tidak megah. Tapi anggun dan teduh.

Saat sang muslimah pamit ke kamar mandi untuk hajatnya, dengan bantuan seekor kecoa yang membuatnya berteriak ketakutan, syaithan bekerja dengan kelihaian menakjubkan. “Di rumah yang seharusnya kami bangun surga dalam ridhaNya, kami jatuh terjerembab ke neraka. Kami melakukan dosa besar terlaknat itu”, dia tersedu. Saya tak tega memandang dia dan sang ibunda yang menggugu. Saya alihkan mata saya pada adik lelakinya di sebalik pintu. Dia tampak menimang seorang anak perempuan kecil.

“Kisahnya tak berhenti sampai di situ”, lanjutnya setelah agak tenang. “Pulang dari sana kami berada dalam gejolak rasa yang sungguh menyiksa. Kami marah. Marah pada diri kami. Marah pada adik dan ibu. Marah pada kawan yang memaksa turun di jalan. Marah pada kecoa itu. Kami kalut. Kami sedih. Merasa kotor. Merasa jijik. Saya terus menangis di jok belakang. Dia menyetir dengan galau. Sesal itu menyakitkan sekali. Kami kacau. Kami merasa hancur.”

Dan kecelakaan itupun terjadi. Mobil mereka menghantam truk pengangkut kayu di tikungan. Tepat sepekan sebelum pernikahan.

“Setelah hampir empat bulan koma”, sambungnya, “Akhirnya saya sadar. Pemulihan yang sungguh memakan waktu itu diperberat oleh kabar yang awalnya saya bingung harus mengucap apa. Saya hamil. Saya mengandung. Perzinaan terdosa itu membuahkan karunia.” Saya takjub pada pilihan katanya. Dia menyebutnya “karunia”. Sungguh tak mudah untuk mengucap itu bagi orang yang terluka oleh dosa.

“Yang lebih membuat saya merasa langit runtuh dan bumi menghimpit adalah”, katanya terisak lagi, “Ternyata calon suami saya, ayah dari anak saya, meninggal di tempat dalam kecelakaan itu.”

“SubhanaLlah”, saya memekik pelan dengan hati menjerit. Saya pandangi gadis kecil yang kini digendong oleh sang paman itu. Engkaulah rupanya Nak, penanda dosa yang harus dicintai itu. Engkaulah rupanya Nak, karunia yang menyertai kekhilafan orangtuamu. Engkaulah rupanya Nak, ujian yang datang setelah ujian. Seperti perut ikan yang menelan Yunus setelah dia tak sabar menyeru kaumnya.

“Doakan saya kuat Ustadz”, ujarnya. Tiba-tiba, panggilan “Ustadz” itu terasa menyengat saya. Sergapan rasa tak pantas serasa melumuri seluruh tubuh. Bagaimana saya akan berkata-kata di hadapan seorang yang begitu tegar menanggung semua derita, bahkan ketika keluarga almarhum calon suaminya mencampakkannya begitu rupa. Saya masih bingung alangkah teganya mereka, keluarga yang konon kaya dan terhormat itu, mengatakan, “Bagaimana kami bisa percaya bahwa itu cucu kami dan bukan hasil ketaksenonohanmu dengan pria lain yang membuat putra kami tersayang meninggal karena frustrasi?”

“Doakan saya Ustadz”, kembali dia menyentak. “Semoga keteguhan dan kesabaran saya atas ujian ini tak berubah menjadi kekerasan hati dan tak tahu malu. Dan semoga sesal dan taubat ini tak menghalangi saya dari mencintai anak itu sepenuh hati.” Aduhai, surga masih jauh. Bahkan pinta doanya pun menakjubkan.

Allah, sayangilah jiwa-jiwa pendosa yang memperbaiki diri dengan sepenuh hati. Allah, jadikan wanita ini semulia Maryam. Cuci dia dari dosa-dosa masa lalu dengan kesabarannya meniti hari-hari bersama sang buah hati. Allah, balasi tiap kegigihannya mencintai penanda dosa dengan kemuliaan di sisiMu dan di sisi orang-orang beriman. Allah, sebab ayahnya telah Kau panggil, kami titipkan anak manis dan shalihah ini ke dalam pengasuhanMu nan Maha Rahman dan Rahim.

Allah, jangan pula izinkan hati kami sesedikit apapun menghina jiwa-jiwa pendosa. Sebab ada kata-kata Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd yang selalu menginsyafkan kami. “Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”

-salim a. fillah, www.safillah.co.cc-

***

NB: sahibatul hikayah berpesan agar kisah ini diceritakan untuk berbagi tentang betapa pentingnya menjaga iman, rasa taqwa, dan tiap detail syari’atNya di tiap langkah kehidupan. Juga agar ada pembelajaran untuk kita bisa memilih sikap terbaik menghadapi tiap uji kehidupan. Semoga Allah menyayanginya

Belajar dari seorang Nasrani : "Mencontek itu Masalah Moralitas"


November 2011 lalu, saya mengikuti training for tutor di Binus Center. Training ini diikuti oleh catur alias calon tutor komputer di Rumah Belajar Yayasan Cinta Anak Bangsa (RB-YCAB), saat itu ada lima orang yang terdaftar sebagai catur, yaitu Try, Mariya, Akbar, Sheila dan saya sendiri. Kami ditraining selama 3 hari, dan pada hari ke-empat kami mengikuti ujian online di tempat yang sama.

Waktu 3 hari cukup bagi kami untuk beradaptasi satu sama lain. Miss Sheila adalah seorang Nasrani taat yang disiplin, bermoral tinggi dan intelek. Beliau besar di Singapura. Saat perkenalan pertama kali, beliau berkata, "panggil saja Sheila, saya biasa panggil nama tanpa embel-embel pak, ibu atau mba...", "Owh,iya..." jawab kami serentak. Tapi karena kami asli Indonesia dan dibesarkan di negeri (yang katanya sih penduduknya ramah dan sopan) ini, tetap saja kami panggil beliau 'Mba Sheila'.

Pada hari ujian itu, kami diberi soal online yang berbeda-beda. Dan masing-masing konsentrasi mengerjakan soal yang tersedia tanpa ada suara-suara sumbang yang mengundang belas kasihan atas ketidakberdayaan menghadapi ujian. Sampai ada seorang catur yang sudah dua kali tidak lulus ujian (kita sebut saja si A), datang mengikuti ujian ketiganya bersama kami. Mulailah ada suara-suara parau menggema di seantero ruangan yang membuat kami gerah, risih, kesal, sekaligus kasihan.

Try, Mba Sheila, Akbar dan saya telah selesai mengerjakan dan langsung mengetahui hasilnya di layar komputer. Lulus dengan nilai yang bagus. Si A masih sibuk dengan soal ujiannya, sibuk mencari jawaban dengan suara paraunya. Mba Sheila dan Akbar terlihat gerah mendengar suara-suara parau tersebut. Saya pura-pura sibuk menelepon, Mariya masih sibuk mengurusi hasil ujiannya yang kurang memuaskan. Try yang tidak tega melihat si A, membantu sebisanya.

Singkat cerita, si A tidak lulus lagi walaupun sudah dibantu sedikit oleh Try yang baik hati. Setelah si A meninggalkan ruangan, Mariya dengan polosnya berkata, "Sebenarnya boleh nanya ga sih, kalau boleh kan tadi aku nanya aja biar nilaiku bagus...?" Mba Sheila langsung menanggapi, "Itu masalah moralitas. Boleh atau tidak, itu kembali ke diri masing-masing. Menurut kita itu baik atau tidak."

Mba Sheila langsung menoleh ke Try dan berkata, "Harusnya tadi kamu jangan memberitahu dia Try, biar dia ngerjain sendiri!" "Tapi saya kasihan Mba, ini kan ujian terakhir dia. Kalau ga lulus lagi dia gagal jadi tutor," sahut Try. "Yang harusnya kamu kasihani itu muridnya, bukan dia. Kalau gurunya seperti itu bagaimana muridnya nanti." jawab Mba Sheila. "Iya sih," ucap Try.

***

Hikmah dari kisah nyata di atas adalah mencontek itu masalah moralitas. Kita tahu peraturan dalam ujian, dilarang mencontek dan bekerja sama. Tapi masih saja ada di antara kita yang melanggar aturan tersebut. Ada anekdot yang sangat terkenal di kalangan rakyat Indonesia, "Peraturan ada untuk dilanggar". Tetapi pantaskah seorang yang mengaku umat Nabi Muhammad SAW yang notabene seorang yang berakhlak mulia, --mengutip pernyataan Ust.Salim A.Fillah-- Rasulullah SAW adalah pesona di atas pesona, pantaskah jika kita tak mengindahkan moralitas tadi?

Moral, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti baik buruk yg diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb; akhlak; budi pekerti; susila. Sedangkan moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yg berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun. Bukankah Islam sangat memperhatikan masalah adab, akhlak, dsb yang berhubungan dengan muamalah? Lalu di mana akhlak kita saat ujian, di mana moral kita sebagai seorang pembelajar? Apakah semua hilang seketika saat ujian sekolah, kuliah atau apapun yang hanya untuk memperoleh nilai hitam di atas putih semata?

Di atas Mba Sheila berkata, "Yang harusnya dikasihani itu muridnya," Kalau saya boleh menambahkan, "Yang harusnya dikasihani itu masa depannya dan masa depan bangsa ini. Mau dibawa ke mana negeri ini jika pemudanya jadi tukang contek....????!!!!"

Di sekolah tempat Mba Sheila mengajar, beliau sangat menekankan kepada murid-muridnya untuk tidak mencontek dan bekerja sama saat ujian. Padahal beliau tidak mengimani kenabian Rasulullah, tapi beliau memiliki akhlak yang harusnya dimiliki umat nabi yang mulia ini. Ironis!

Sekali lagi tidak ingin mendiskreditkan pihak manapun, hanya ingin berbagi dan mengingatkan. Jika ada kata-kata yang tidak berkenan mohon dimaafkan seluas-luasnya. Al haqqu min robbik....

Wassalam

Widi Annisa

Kamis, Desember 31, 2009

Keadaan Hajjaj bin Yusuf ats Tsaqafi pada Hari Hisab dalam Mimpi Umar bin Abdul Aziz

Abu Hazim berkata : “Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz aku datang ke Damaskus (ibukota kekhalifahan). Hari itu adalah hari Jum’at. Jika meneruskan perjalanan ke tempat yang aku tuju, aku tidak akan bisa shalat Jum’at. Kemudian aku berjalan menuju pintu sebuah masjid. Lalu aku mengistirahatkan dan mengikat untaku di halaman masjid. Ketika aku telah memasuki masjid, aku melihat Amirul Mu’minin sedang berkhutbah di atas mimbar. Pada saat melihatku dia berkata, ‘Wahai Abu Hazim mendekatlah kepadaku.’ Kemudian orang-orang melapangkan tempat untukku sehingga aku duduk di dekat mihrab. Setelah selesai berkhutbah dan mengimami shalat, beliau menoleh kepadaku dan berkata : ‘Wahai Abu Hazim, sejak kapankah kamu datang ke negeri kami ini?’ Aku berkata : ‘Baru saja dan untaku masih terikat di halaman masjid.’ Ketika dia telah berbicara, aku segera mengenalinya. Aku bertanya : ‘Bukankah kamu adalah Umar bin Abdul Aziz?’ Dia menjawab: ‘Benar.’ Aku berkata: ‘Demi Allah, ketika kamu bersama kami sebagai Gubernur Abdul Malik bin Marwan di daerah Khanashirah wajahmu bercahaya, pakaianmu necis, kendaraanmu megah, makananmu lezat-lezat, pengawalmu satu kompi, apakah yang mengubah keadaanmu padahal saat ini kamu adalah Amirul Mu’minin?’ Dia menjawab: ‘Wahai Abu Hazim, semoga Allah meneguhkanmu, janganlah kamu mengulangi lagi tentang Khanashirah.’ Aku berkata: ‘Baik, aku telah mendengar Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di hadapan kamu ada jalan mendaki yang susah untuk didaki kecuali oleh setiap orang yang ringan dan kurus.” (HR. Hakim)
Kemudian dia menangis sehingga rintihannya semakin keras. Setelah itu dia tertawa lebar sehingga kelihatan gigi gerahamnya. Orang-orang menjadi ramai melihat hal aneh tersebut. Aku berkata: ‘Tenanglah dan diamlah kalian., sesungguhnya Amirul Mu’minin sedang mengalami hal yang dahsyat.’ Setelah sadar dari pingsannya, aku segera bertanya kepadanya: ‘Wahai Amirul Mu’minin kami telah melihat sesuatu yang aneh darimu.’ Dia berkata: ‘Lalu apakah kamu melihat semua yang terjadi padaku?’ Kami menjawab: ‘Benar.’
Umar bin Abdul Aziz berkata: “Sesungguhnya ketika aku dalam keadaan pingsan, aku menyaksikan bahwa kiamat terjadi. Allah menghimpun semua makhluk. Mereka berjumlah seratus dua puluh baris. Umat Muhammad berjumlah delapan puluh baris, sedangkan semua makhluk yang bertauhid lainnya berjumlah empat puluh baris. Tiba-tiba diletakkan Kursi, dipasang Mizan (timbangan amal), dan dikembangkan semua buku catatan. Kemudian seorang tukang seru berseru: ‘Di manakah dia Abdullah bin Abu Quhafah (Abu Bakar Ash Shidiq)?’ Maka muncullah seorang tua yang tinggi dan berambut hitam dengan cat inai. Lalu para malaikat memegang dua pangkal lengannya dan memberdirikannya di hadapan Allah. Lalu diadili (dihisab) dengan penghisaban yang mudah. Kemudian dia diperintahkan ke arah kanan, ke syurga. Setelah itu, seorang penyeru menyeru lagi: ‘Di manakah dia Umar bin Khaththab?’ Tiba-tiba muncullah seorang tua yang tinggi dan rambut yang dicat hitam dengan inai. Lalu para malaikat memegang kedua pangkal lengannya dan memberdirikannya di hadapan Allah. Kemudian diadili (dihisab) dengan penghisaban yang ringan. Kemudian dia diperintahkan untuk digiring ke arah kanan, syurga. Setelah itu seorang penyeru menyeru lagi: ‘Di manakah dia Utsman bin Affan?’ Tiba-tiba muncullah seorang tua yang tinggi dan dengan jenggot yang kuning. Lalu para malaikat memegang dua pangkal lengannya, dia diberdirikan di hadapan Allah. Kemudian diadili (dihisab) dengan penghisaban yang ringan. Kemudian dia diperintahkan untuk digiring ke arah kanan, ke syurga. Setelah itu seorang penyeru menyeru lagi: ‘Di manakah dia Ali bin Abu Thalib?’ Tiba-tiba muncullah seorang tua yang tinggi dengan kepala yang putih, berperut besar dan berbetis kecil. Lalu para malaikat memegang dua pangkal lengannya dan dia diberdirikan di hadapan Allah. Kemudian diadili (dihisab) dengan penghisaban yang ringan. Kemudian dia diperintahkan untuk digiring ke arah kanan, syurga. Maka, ketika aku telah mengetahui bahwa pengadilan itu sudah mendekat kepadaku, aku sibuk dengan diriku sendiri sedangkan aku tidak mengetahui apakah yang akan diperbuat Allah terhadap orang-orang selanjutnya karena saking sibuknya aku dengan diriku sendiri. Tiba-tiba seorang penyeru menyeruku: ‘Di manakah dia Umar bin Abdul Aziz?’ Aku segera berdiri untuk maju, tetapi aku terjatuh dan tertelungkup. Aku segera berdiri lagi untuk maju, tetapi aku terjatuh dan tertelungkup… Lalu datanglah dua malaikat dan keduanya segera memegang kedua pangkal lenganku dan memberdirikanku di hadapan Allah. Lalu Allah menanyai dan meminta pertanggungjawabanku tentang harta-harta mulai dari yang paling kecil dan remeh dan tentang segala keputusan yang aku putuskan dalam menghukum sehingga aku mengira aku tidak selamat…. Kemudian, Tuhanku memberikan karunia-Nya kepadaku dan menurunkan rahmat-Nya. Lalu Dia memerintahkan aku untuk pergi ke arah kanan, ke syurga. Pada saat aku sedang berjalan dengan dua malaikat itu, aku melewati bangkai manusia yang tergeletak di atas abu bekas bara. Aku bertanya: ‘Bangkai apakah ini?’ Malaikat itu menjawab: ‘Mendekatlah kepadanya dan tanyalah dia. Dia akan menjawab pertanyaanmu.’ Lalu aku mendekatinya dan menendangnya dengan kakiku, aku bertanya: ‘Siapakah kamu?’ Dia balik bertanya kepadaku: ‘Kamu siapa?’ Aku menjawab: ‘Aku adalah Umar bin Abdul Aziz.’ Dia bertanya: ‘Apa yang telah diperbuat Allah terhadap kamu dan teman-temanmu?’ Aku menjawab: ‘Adapun dengan khalifah yang berempat, Dia telah memerintahkan ke arah kanan, ke syurga, sedangkan para khalifah setelah mereka aku tidak tahu bagaimana nasib mereka.’ Dia bertanya: ‘Dan kamu, apakah yang diperbuat Allah terhadapmu?’ aku menjawab: ‘Dia telah memberikan karunia-Nya kepadaku dan menurunkan rahmat-Nya untukku. Dia memerintahkan aku ke arah kanan, ke syurga.’ Aku bertanya kepadanya: ‘Siapakah kamu?’ Dia menjawab: ‘Aku adalah Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi.’ Aku bertanya: ‘Wahai Hajjaj, apakah yang telah diperbuat Allah kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Aku telah menghadap kepada Tuhan Yang Maha Keras Hukuman-Nya. Dia Maha Penghukum orang-orang yang mengingkarinya. Dia telah membunuhku sebanyak bilangan orang yang aku bunuh. Dan kini, inilah aku yang sedang menunggu untuk dihadapkan ke hadapan Tuhanku dan menunggu pengadilan yang akan dilaksanakan terhadap orang-orang yang mentauhidkan-Nya, apakah aku akan ke syurga ataukah akan ke neraka?’

Abu Hazim berkata: “Setelah mimpi Umar ini aku berdoa kepada Allah agar Dia tidak menetapkan masuk neraka bagi seorang pun dari umat Muhammad.”

Sumber : 277 Kisah Para Shalihin – Karya : Majdi Muhammad Asy Syahawy

Kamis, November 05, 2009

SURAT DARI SETAN UNTUK MU


Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktifitas harianmu.
Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu
Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan "Bismillah" sebelum memulai santapanmu, juga tidak sempat mengerjakan shalat Isya sebelum berangkat ke tempat tidurmu
Kau benar2 orang yang bersyukur, Aku menyukainya
Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku
melihatmu tidak merubah cara hidupmu.
Hai Bodoh, Kamu millikku.
Ingat, kau dan aku sudah bertahun-tahun bersama,
dan aku masih belum bisa benar2 mencintaimu .
Malah aku masih membencimu, karena aku benci Allah.

Aku hanya menggunakanmu untuk membalas dendamku kepada Allah.
Dia sudah mencampakkan aku dari surga,
dan aku akan tetap memanfaatkanmu sepanjang masa untuk membalaskannya

Kau lihat, ALLAH MENYAYANGIMU
dan Dia masih memiliki rencana-rencana untukmu di hari depan.
Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku,
dan aku akan membuat kehidupanmu seperti neraka.
Sehingga kita bisa bersama dua kali dan ini akan menyakiti hati ALLAH

Aku benar-benar berterimakasih padamu,
karena aku sudah menunjukkan kepada NYA
siapa yang menjadipengatur dalam hidupmu dalam masa2 yang kita jalani

Kita nonton film porno bersama, memaki orang, mencuri, berbohong, munafik,
makan sekenyang-kenyangya , guyon2an jorok, bergosip,
manghakimi orang, menghujam orang dari belakang,
tidak hormat pada orang tua ,Tidak menghargai Masjid, berperilaku buruk.
TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja.

Ayolah, Hai Bodoh, kita terbakar bersama, selamanya.
Aku masih memiliki rencana2 hangat untuk kita.
Ini hanya merupakan surat penghargaanku untuk mu.
Aku ingin mengucapkan 'TERIMAKASIH'
karena sudah mengizinkanku memanfaatkan hampir semua masa hidupmu.

Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu.
Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan tawa.
Dosa sudah mulai mewarnai hidupmu.
Kamu sudah 20 tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda.
Jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana berbuat dosa.
Yang perlu kau lakukan adalah merokok, mabuk-mabukan,
berbohong, berjudi, bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin.
Lakukan semua ini didepan anak-anak
dan mereka akan menirunya.
Begitulah anak-anak .
Baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang.
Aku akan kembali beberapa detik lagi
untuk menggoda mu lagi.
Jika kau cukup cerdas, kau akan larisembunyi, dan
bertaubat atas dosa-dosamu.
Dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal sedikit.
Memperingati orang bukan tabiatku,
tapi diusiamu sekarang dan tetap melakukan dosa,
sepertinya memang agak aneh.
Jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu.
Hanya saja kau harus menjadi org tolol yang lebih baik dimata ALLAH.

Catatan : Jika kau benar2
menyayangiku , kau tak akan
membagi surat ini dengan siapapun

Sabtu, Mei 09, 2009

BUAH SU’UZHON

Apa sih su’uzhon? Sejenis mangga, pisang atau umbi-umbian? Su’uzhon itu berasal dari bahasa Arab yang artinya berburuk sangka. Pernah dengar kisah seorang pria yang membunuh kucingnya karena su’uzhon? Kucing peliharaan yang begitu setia mengikutinya dari sebelum ia memiliki anak, hingga ia dianugerahi seorang bayi mungil oleh Yang Maha Kuasa.
Sang kucing menjaga bayi di saat majikannya pergi. Ada ular besar masuk ke rumah dan ingin mencelakai bayi mungil yang sedang tertidur nyenyak tapi sang kucing menghalanginya. Terjadilah pertarungan yang seru antara ular dan kucing. Saat sepasang suami istri itu pulang, didapatinya kucing peliharaannya dengan mulut penuh darah. Sang majikan langsung beranggapan bahwa si kucing telah memakan bayinya. Dengan geram pria itu membunuh kucing peliharaannya. Namun, betapa menyesalnya sepasang suami istri itu saat melihat bayinya baik-baik saja. Seekor ular besar tergeletak tak bernyawa di sana, barulah mereka tahu bahwa sebenarnya kucing peliharaannya itu telah menjaga anaknya dari gangguan ular besar itu.

Seorang sahabatku bercerita padaku, bagaimana su’uzhon menghancurleburkan persahabatan dan persaudaraan yang telah terjalin selama lebih dari 5 tahun. Entah dari mana awal mula berita itu menyeruak ke permukaan? Nama baik seorang akhwat dicemari dengan tuduhan bahwa ia berpacaran dengan teman sekelasnya di kampus. Laki-laki yang tergolong anak bandel ini disebut-sebut telah berhasil mencuri hati gadis berparas cantik yang merupakan aktivis dakwah. Kok bisa?
Ada berita dan ini shahih, yang mengatakan bahwa sebut saja Ratna boncengan motor dengan laki-laki yang digosipkan sebagai pacarnya itu. Dan yang lebih mengagetkan lagi mereka berdua terlihat keluar dari sebuah mall. Akhirnya muncullah prasangka, kalau bukan pacaran terus apa namanya?
Jarang datang ke pengajian, jarang ngumpul sama teman-teman sesama aktivis dakwah, tahu-tahu boncengan motor sama laki-laki dan itu keluar dari sebuah mall. Parah banget sih akhwat ini. Dia pasti udah terkena Virus Merah Jambu (VMJ) deh. Itulah yang ada dalam pikiran teman-teman Ratna tentang dirinya.
Ada sms nyasar dari laki-laki itu yang masuk ke no.HP seorang sahabat Ratna, isinya berupa kata-kata sayang tapi tidak jelas sms itu untuk siapa. Dia langsung menebak layaknya seorang paranormal sakti, “SMS ini pasti buat Ratna, tapi dia salah kirim.”
Merasa keadaan Ratna sudah sangat parah, sahabatnya ini menghampiri Ratna. Dan ini kata-kata yang dilontarkannya kepada Ratna, “Ratna, kamu ga salah, kok mau sih pacaran sama cowok kayak dia…...(menjelek-jelekkan laki-laki yang digosipkan sebagai pacar Ratna).” Ratna tidak memberi jawaban atas tudingan sahabatnya, ia malah menjauh dengan muka ditekuk. Kalau anda yang di posisi Ratna, bagaimana perasaan Anda, tanpa tabayun (klarifikasi) atas berita yang memojokkan dirinya, dia diserang dengan kata-kata yang lebih mirip menyalahkan atau memvonis Ratna sebagai seorang yang bersalah. Lagi-lagi prasangka bermain di benak teman Ratna ini, Ratna pasti ga suka deh kalau pacarnya dijelek-jelekin gitu. Buktinya dia sampai pergi dengan muka ditekuk gitu.
Keesokan harinya, si cowok itu ngelabrak sahabat Ratna. “Loe ngomong apaan sih ke Ratna, jelek-jelekin gue di depan Ratna. Loe pengen ngerusak hubungan gue sama Ratna?” Nah, semakin menguatkan dugaan kalau memang Ratna dan cowok itu punya hubungan khusus. Tapi kenapa Ratna pake cerita segala sih, sampe aku dilabrak gini. Benar-benar keterlaluan si Ratna, dia pasti sengaja cerita ke cowoknya.
Sejak saat itu, hubungan Ratna dan sahabatnya yang telah terjalin lebih dari 5 tahun pun hancur sudah. Mereka tak pernah lagi bertegur sapa padahal mereka sekelas. Tak ada lagi senyum, tak ada lagi salam. Hanya kata-kata ini yang terukir “Terserah deh Na kamu mau ngapain aja, aku udah ga peduli.”
Berita ini sampai ke telinga sahabatku Ayu, sekaligus kakak kelas Ratna semasa di SMA. Ayu tahu persis watak Ratna, karena ia cukup dekat dengan Ratna. “Dekatin dong kan kamu sekelas,” kata Ayu kepada sahabat Ratna, Dian. Tapi Dian dan teman-teman Ratna lainnya sudah merasa tak bisa lagi mendekati Ratna. Dian sudah sakit hati atas perlakuan cowok itu kepadanya yang dia anggap sebagai perlakuan serupa dari Ratna. Ayu tidak percaya dengan apa yang didengarnya, tapi mendengar cerita teman Ratna itu Ayu jadi penasaran. Dia merasa perlu mendengar kisah dari sisi Ratna. Ayu memang sahabat sejatiku, ia tak pernah gegabah dalam mengambil keputusan.
Ayu bersilaturrahim ke rumah Ratna, ia membuka perbincangan dengan bahasa yang halus dari hati ke hati. Dan inilah penjelasan Ratna. “Aku lagi banyak masalah keluarga kak Ayu, tapi ga ada satu pun sahabat-sahabat aku yang datang dan nanyain keadaan aku padahal aku butuh mereka. Masalah kenapa aku ga pernah datang lagi ke pengajian, orang tuaku yang melarang. Itu karena orang tua aku kasihan melihat aku pergi pagi pulang malam. Kerja sambil kuliah ga ada istirahatnya, hari Ahad aja pergi untuk ngaji yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Kak Ayu tahu sendiri kan kalau fisikku tuh rentan. Aku udah pernah bilang mau pindah pengajian aja, tapi ga ditanggapin sama teman-teman. Makanya aku pindah ngaji ke daerah yang dekat rumahku tanpa izin sama teman-teman yang lain, daripada aku benar-benar ga ngaji.”
“Kalau masalah boncengan dari mall itu, aku akuin itu salah aku. Tapi aku ga jalan bareng dia, cuma kebetulan ketemu dan waktu itu aku lagi buru-buru banget makanya aku ga pikir panjang langsung ikut. Tapi itu cuma sekali kak, cuma sekali dan aku nyesel banget. Yang aku ga suka dari teman-temanku itu, mereka ga pernah nanya baik-baik tentang masalahku. Mereka langsung men-judge, siapa yang ga kesal sih kak padahal mereka juga ga pernah silaturrahim lagi ke rumahku.” Ratna menjelaskan masalahnya dengan beruraian air mata.
“Yang dapat sms nyasar itu bukan cuma Dian, teman-teman yang lain juga dapat. Cowok itu emang anak iseng, aku ga punya hubungan apa-apa sama dia kak. Waktu Dian nanya soal cowok itu, aku langsung buang muka karena aku udah kesal banget. Terus aku ngomelin cowok itu, karena aku pikir dia yang udah bikin teman-temanku jadi salah sangka.” Oh, jadi gitu ceritanya. Ratna memarahi si cowok itu karena menurut Ratna cowok itulah penyebab gosip miring tentang dirinya. Si cowok memarahi Dian, teman Ratna, karena merasa telah dijelek-jelekkan namanya di depan Ratna. Sedangkan Dian menyangka Ratna mengadu ke cowoknya tentang perkataan Dian. Missed communication nih kayaknya.

Sebuah pelajaran menarik, apapun yang kita dengar atau lihat belum tentu seperti apa yang kita duga. Dalam Islam, diajarkan untuk meneliti lebih dahulu kebenaran sebuah berita atau biasa disebut “tabayyun”.
Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”
(Q.S.Al Hujurat : 12)

Rabu, Mei 06, 2009

CINTA IBUNDA

Apa yang menarik dari kisah Harry Potter? Novel anak-anak tersebut telah menyelipkan sebuah adegan menarik sekaligus mengharukan : Kekuatan cinta seorang ibu. Voldemort -penyihir hitam paling ditakuti- tiba-tiba kehilangan seluruh kekuatannya ketika ingin membunuh seorang bayi, setelah sebelumnya berhasil menghabisi orang tua bayi itu. Dunia Mistik jadi gempar atas kekalahan penyihir tersebut. Ternyata, sampai detik-detik kematiannya sang Bunda masih terus berupaya menyelamatkan Harry Potter yang masih bayi. Kekuatan cinta seorang ibu, meskipun sang ibu telah tiada, telah mampu melindungi sang anak dari bahaya.
Lepas dari kisah Harry Potter, pernahkah kita menghitung berapa liter beras dan berapa jenis makanan yang telah dimasak oleh seorang ibu untuk anaknya, tangan sang ibu terangkat ketika berdo'a dan berapa banyak air mata mengalir ketika sujud mendo'akan kebahagiaan dan keselamatan anaknya.
Ketika sahabat Nabi SAW berthawaf mengelilingi ka'bah sambi menggendong ibunya yang sudah sepuh, ia bertanya pada Rasul yang mulia,"Sudahkah terbayar lunas semua jerih payah ibuku, Ya Rasulullah?" Rasulullah menjawab,"Tidak, bahkan untuk menandingi rasa sakitnya saat melahirkanmu pun tidak terbayar."
Dalam bahasa lain, andaikan, sekali lagi, andaikan saja anda mempunyai gunung emas yang kemudian anda berikan semuanya berikut seluruh perbendaharaan harta anda yang lain untuk mengganti semua yang telah dilakukan oleh seorang ibu, niscaya itu semua belum mampu membayar satu malam saja saat-saat ibu mengasuh anda. Tidak pernah ada kata "cukup", "lunas", "terbayar" untuk membalas cinta seorang ibu.
Kita durhaka pada bunda bila bunda tinggal di rumah kecil dan bocor di sana sini, sementara kita tinggal di tempat yang nyaman; kita berdosa bila kita menikmati makan siang yang lezat dan penuh gizi sementara bunda hanya makan seadanya; kita berdosa bila menghitung biaya sekolah anak dan karena itu kita menghindar membelikan obat bagi bunda yang tengah sakit; kita berdosa bila kita dalam perjalanan yang sangat nyaman dalam mobil mewah, sementara bunda naik kendaraan yang penuh sesak; kita tergolong anak durhaka bila kita sanggup piknik atau jalan-jalan dengan teman tapi selalu saja punya alasan untuk tidak membantu atau menemani bunda.
Jangan gunakan logika untuk berkhidmat pada bunda. Balas cintanya dengan cintamu. Kenapa? Karena "Ridho Allah terletak pada ridho orang tua." Begitulah ajaran agama kita. Bagaimana kita membagi cinta untuk keluarga (bagi yang sudah berkeluarga), pekerjaan, teman dan sekaligus untuk bunda? Jawabannya adalah kita tidak pernah membagi cinta, tetapi kita selalu melipatgandakannya. Balaslah kekuatan cinta bunda dengan ketulusan cinta kita, insya ALlah -seperti diilustrasikan dalam kisah Harry Potter- cinta sang bunda akan terus melindungi kehidupan kita.

Ya Robb, ampuni dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangi kami di waktu kecil."

Selasa, April 21, 2009

Istighfar

"Siapa yang membiasakan beristighfar
(memohon ampun kepada Allah),
maka Allah akan memudahkan baginya:
1) Jalan keluar dari setiap kesempitan,
2) Kemudahan dalam setiap kepanikan,
3) Rezeki dari Allah Swt lewat jalan yang tidak pernah terduga.”
(HR. Abu Daud)

"aku tak peduli atas keadaan susah dan senangku.,
karena aku tak tahu,
manakah diantara keduanya yg lebih baik bagiku.
(Umar Bin Khatab Ra)

jika susah kita bersabar dan jika senang kita bersyukur...
karna tidak ada yang sia-sia bagi pribadi seorang mukmin

Sumber : ﷲ TARBIYAH in FACEBOOK ﷲ